Setelah ketua FPI, Rizieq Shihab tersandung hukum dan dilaporkan oleh banyak orang, taringnya mulai terasah. Taring FPI terasah tidak semakin tajam, namun diasah oleh amplas. Kasus-kasus yang dialami Rizieq Shihab mulai dari kasus Sampurasun, penghinaan terhadap umat Kristiani mengenai bidan, kasus Firza Hots, dan penghinaan terhadap pendeta. Kasus lain juga dialami oleh juru biara FPI, Munarman yang menghina tradisi Pecalang Bali, membuat bibir juru bicara ini tertutup dan tidak terbuka lagi sampai saat ini.
Badai Gurun Saharasehan yang dialami oleh Rizieq dan Munarman mengagetkan mereka. Mereka tercengang dan pada ujung eksistansinya, RS akhirnya mendatangi dan “mewek” kepada Wiranto, yang katanya pernah ada hubungan dekat dengan ormas ini.
Angin gurun yang bertubi-tubi dialami oleh ormas “cerdas” ini membuat gigi taring FPI tumpul. Maka tidak heran jika sekarang FPI sudah sulit untuk menggerakkan massa dalam jumlah besar. Mereka mulai sadar bahwa dunia ini bundar dan berbentuk bola pipih. Namun kesadaran mereka tidak mereka tunjukkan dan tetap menutup kesadaran mereka untuk hal ini.
Delegasi semangat dari FPI ke FUI… (sebenarnya degradasi)
Mereka mendelegasikan kekuatannya kepada FUI (Forum Ulama Islam atau Forum Umat Islam, saya tidak tahu yang benar yang mana), di bawah kepemimpian seseorang yang sangat sulit dituliskan namanya, Al Khaththath. Huruf T dan H yang sangat banyak melekat pada namanya menandakan bahwa dirinya penuh dengan T dan H….. Buat kalian yang tidak mengerti ya sudah! Hehehe
Kedua ormas ini baik FPI maupun FUI sama sama memiliki agenda yang mungkin lebih dalam ketimbang menjadikan Anies Sandi sebagai gubernur DKI Jakarta. Di dalam setiran keluarga “kayu wangi” (tebak sendiri), mereka dikontrol untuk mengubah tatanan reformasi, dan mengembalikan tatanan negara ini ke tatanan lama, yaitu tatanan lama bernama “Orde Baru”.
Revolusi Mental yang ingin dilawan dengan Retardasi Mental
Selama kampanye pada tahun 2014, Pak Dhe Jokowi mengusungkan sebuah perubahan yang bernama Revolusi Mental. Hal yang dikerjakan oleh Pak Dhe benar-benar menunjukkan revolusi mental. Namun ada saja orang-orang seperti Pangeran “Kayu Wangi”, Rizieq Shihab, Khaththat (yang banyak TH nya hehehe), bahkan mungkin Anies dan Sandi, yang tidak senang dengan revolusi mental.
Mereka adalah orang-orang lama yang masih rindu dan gagal move on dari era orde baru yang dipimpin oleh Soeharto dan era auto pilot yang dipimpin oleh Pak Mantan, Susilo Bambang Yudhoyono.
Mereka mencoba memperbodoh/ retarding apa yang sudah menjadi semangat yang mendarah daging di pemerintahan Indonesia, yaitu semangat revolusi mental. Saya tidak tahu apakah istilah “memperbodoh” itu benar atau tidak di dalam penggunaan bahasa Indonesia baku.
Quo Vadis warga Jakarta yang merupakan warga miniatur Indonesia
Masa depan Jakarta dan Indonesia ada di dalam penentuan gubernur pada tanggal 19 April nanti di DKI. Karena Jakarta merupakan miniatur Indonesia, maka tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa pemilu DKI ini menjadi penentu dari masa depan negara Indonesia tercinta ini.
Quo Vadis (baca: mau kemana) warga Jakarta jika dipimpin oleh orang-orang yang ingin memunculkan semangat orde baru dan autopilot? Warga Jakarta yang cerdas tentu tahu siapa yang akan kalian pilih. FPI yang taringnya sudah di ampelas, sekarang menyerahkan tahtanya kepada FUI di bawah kepemimpinan Al Khaththath (yang namanya banyak T dan H nya)…
Betul kan yang saya katakan?
Untuk membaca buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut: https://seword.com/author/hans-sebastian/

0 Response to "Polisi “Ampelas” Taring Rizieq FPI, 313 Dikoordinasi Pemain Cadangan, Al Khaththath FUI"
Posting Komentar