Selama ini Anies Baswedan terkenal dengan retorika yang cukup memukau publik. Cara bicaranya selama ini terlihat santun, tetapi karena Pilkada maka semua bisa berubah, termasuk karakter pribadinya. Ketika menonton debat, adu argumentasi pada beberapa waktu lalu di acara Mata Nadjwa, terlihat daya kritis Anies semakin melemah dan yang nampak adalah kata-kata kasar yang menyerang pribadi terutama Ahok sebagai lawan politik dalam bertarung. Adu argumentasi terlihat jelas mengedepankan visi-misi yang tertuang dalam program yang diusung pada proses pencalonan mereka sebagai calon gubernur.
Pada titik tertentu, publik semakin menaruh rasa kecewa terhadap Anies yang sebelumnya terkesan santun dan pandai berdiplomasi, namun pada tataran adu argumentasi, ternyata semakin tak berdaya di hadapan Ahok. Contoh yang paling jelas ketika Nadjwa Shihab, tuan rumah Mata Nadja melontarkan pertanyaan pada Anies dan Ahok tentang gaya kepemimpinan Soeharto seperti apa yang ditiru oleh Anies dan Ahok. Anies sendiri menjawab bahwa kestabilan emosi Soeharto yang ditiru. Sementara Ahok sendiri menjawab dengan memperlihatkan data tentang bagaimana Soeharto menangani masalah stok beras yang berkurang pada wilayah Manado. Soeharto memerintahkan agar segera dibawa beras menggunakan helikopter. Dalam hitungan jam, gudang beras yang tadinya kosong, terisi kembali.
Melihat jawaban dari dua kandidat ini menampilkan dua sisi figur yang berbeda. Anies menampilkan emosionalitas Soeharto yang stabil sebagai cara untuk menyerang kepribadian Ahok yang terkesan arogan dan panik ketika menghadapi masalah. Memang, dalam kepemimpinan Soeharto di masa Orde Baru, terkesan santun dalam berbicara tetapi tindakannya membahayakan bahkan mematikan. Anies sepertinya sedang mengadopsi kesantunan Soeharto dan membangun strategi mematahkan lawan dengan menggunakan “tangan orang lain.” Sebuah tindakan yang menyembunyikan sikap sangar dan menampilkan sikap santun seorang Anies.
Lalu bagaimana dengan Ahok? Jawaban Ahok di atas menunjukkan sebuah cara kerja yang jitu. Ketika menghadapi sebuah permasalahan maka yang dipikirkan adalah bagaimana membangun strategi untuk memecahkan masalah tersebut. Ahok mengadopsi hal positif dari Soeharto dan Ahok sendiri cukup banyak mengetahui tentang sosok Soeharto yang terkenal sebagai ahli strategi. Ahok mengadopsi strategi yang dimiliki oleh Soeharto untuk mengatasi kesulitan dalam memimpin DKI Jakarta. Karena Ahok menyadari bahwa menjadi pemimpin itu tidak ditentukan oleh retorika dalam berbicara tetapi yang jauh lebih dipentingkan adalah ketepatan dalam menganalisis masalah dan kecepatan mencari cara untuk mengatasinya.
Dalam debat pada beberapa waktu lalu, menunjukkan sebuah kedewasaan dalam diri Ahok yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang kontroversial, jauh dari sentuhan keramahan. Tetapi dalam perjalann waktu, kepribadian Ahok semakin tertata baik dan tutur bahasanya semakin ramah. Memang, pengalaman adalah guru yang terbaik, guru yang perlu diguguh, ditiru untuk pengembangan kepribadian. Ahok mengadopsi segala kritik dan saran dari luar diri serta mengalami proses internalisasi yang pada akhirnya membentuk karakter personal yang baik seperti yang diharapkan oleh publik. Sementara itu kepribadian Anies semakin jauh dari harapan, hal ini terbukti dari cara berdebat di Mata Nadja, walaupun sesaat tetapi memperlihatkan kemerosotan pribadi Anies yang terlihat semakin sangar.
Mengapa kepribadian Anies berubah? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penting, mengingat bahwa Anies selama ini mengedepankan sikap santun. Ketika ditetapkan menjadi calon gubernur DKI Jakarta, Anies berafiliasi dengan kelompok-kelompok intoleran yang secara faktual memperlihatkan cara-cara kasar dan jauh dari etika umum. Anies secara tidak langsung masuk ke dalam kandang kelompok intoleran itu dan karena sudah masuk ke kandang orang maka mau tidak mau harus mengikuti apa yang diperlihatkan oleh penghuni kandang itu. Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa “masuk ke kandang kambing, harus bisa mengembik, masuk ke kandang kuda, harus bisa meringkik.” Pepatah ini menjadi menarik kalau kita sematkan pada Anies. Kepribadian Anies yang dulunya santun dan pandai beretorika, kini mengalami perubahan secara total. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa Anies sedang mengadopsi karakter yang kasar dari kelompok-kelompok sekelilingnya bahkan menjadi pendukung pada pertarungan Pilkada DKI Jakarta.
Anies semakin garang tetapi dengan itu ia semakin tidak mengontrol gaya pembicaraan. Karena itu yang nampak dari perdebatan di publik adalah sikap menyerang dan di sini terlihat Anies kehilangan daya kritisnya dalam menyerang Ahok untuk berargumentasi. Masyarakat pada akhirnya melihat dan menentukan sikap bahwa karakter pribadi dan kelompok-kelompok yang mengitari Paslon tertentu juga berpengaruh pada pertarungan Pilkada DKI Jakarta. Memilih itu sebuah pilihan tetapi pilihan yang baik adalah memilih orang baik yang berpihak pada kepentingan masyarakat umum.***

0 Response to "Hilangnya Daya Kritis Anies"
Posting Komentar